Jika teman2 merasa kehidupan anda masih kurang baik dalam hal keuangan maupun yang lainnya. Ikuti jejak mimi ya.... dengan klik website dibawah ini !!! Garansi 200% uang kembali
http://www.formulabisnis.com/?id=MimiMika
Selalu optimis maka akan selalu ditemukan jalan keluar.......
To you (because you found it) I am lost on a desert island. Long captivated has its beauty held me, But it does not make up for being lonely. I’m begging you, please rescue me; Else I may lose my sanity. Creeping insanity, I fear it may come Before my rescue… Wait, I hear a steel drum! Could it be that my salvation’s at hand By the lonely wand’ring of a cruise liner’s band
Could it be that I WILL see my friends again I would be joyous to leave this land Behind me. Oh, sweet joy, a ship in sight! It is on the horizon, and by the sun’s light It may find me yet! Oh, it is the broad light of day! Bright light, high sun, and, how do you say, Ah, yes, freedom! But wait. How will they Be able to find me The chances are nay…
Yet their ship, yes, their ship, is approaching at speed! Oh, sweet salvation, how long have I seeked! And if this day should see them to me, My self would return to reality.
I can see the passengers now; Some men, some women. They’re standing at the bow Of the ship. They’re searching for something. Could I possibly be that something Yes! I am waving, and they are waving back! It’s true! It is true. I must get ready to pack All of the things that are here with me; My only connection to humanity.
But while I’d love to leave this desert isle, It’s been my home for quite a while. About a week, if I remember right. (On the sand I would lay, and I spent the nights Staring up at the sky, filled with diamond-like stars– But what am I thinking I’m going home, away from here, far.)
They’re coming closer now; I guess I should ready My belongings… Onmagosh, is that my baby Yes, it is he!! What sweet, sweet irony That my rescuer should be my one and only! The only man I will ever love; He has searched for and found his wand’ring dove! And now, now I see, he is calling my name! He cries out I love you and I cry out the same. And as the ship anchors in the shallow sea, I run to him; he runs to me After securing the anchor. I exult in His warm embrace. I’ll never leave him again! He picks up my bags while holding my hand…
And sadly I realize this message must end. So, happily now I’ll seal this message In a bottle, and send it on its passage. A miraculous rescue this, I think you’ll agree. May this message give you hope on the open sea. And so, as we are going home, I shall drop This message in a bottle into the ocean, with hope That my joyous words will comfort you When you’re on the open sea, lonely and blue...........
Celotehan Malamnya Cici Mika :
"Mika langsung bobo ya mi... Ngantuk... uaaahhhhmmmmmm" "ok, met bobo ya sayang, Ilove u" ...
Walau aku senyum bukan berarti/ Aku selalu bahagia dalam hari Ada yang tak ada di hati ini/ di jiwa ini Hampa… Ku bertemu sang adam di simpang hidupku Namun ada saja cobaan hidup Seakan aku hina
Tuhan berikanlah aku cinta Untuk temaniku dalam sepi Tangkap aku dalam terangMu Biarkan lah aku punya cinta
Tuhan berikanlah aku cinta Aku juga berhak bahagia Berikan restu dan halalMu Tuhan beri aku cinta… .
Celotehan Malamnya Cici Mika :
"Mi....Mika sayang Mimi, besarnya lebih dari besarnya bumi.." Duuuuuh anak mimi... Mimi juga sayang kamu nak.. lebih besar dari rasa sayang kamu ke mimi... mmmuuuaaaahhhh ...
"Lihat coretan mika diatas, mimi jadi "feeling guilty" banget sama cici.... O God.. How could I don't trust her..??? what happen to me..?
Celotehan Malamnya Cici Mika :
2 malam ini gak ada celotehan2 ringan dari mika untuk mimi karena sudah 2 malam ini juga setiap mimi pulang kantor, mika sudah ada diatas tempat tidurnya dengan posisi siap untuk tidur dan keiknya dah gak mau diganggu.... Mimi baru sadar sekarang, mungkin ini adalah sikap protesnya dia ke mimi karena sudah marah sama dia tentang kumon n tidak percaya sm dia sewaktu dia bilang buku agamanya masih di ibu guru sementara besoknya dia ada hafalan... Maafin mimi ya de...'
Siang terik menyengat seperti lidah-lidah api. Daun kecoklatan berguguran di terpa angin musim kemarau yang kering. Kemarau yang aneh, karena sesekali hujan meningkahi barang satu dua kali dalam dua minggu. Setidaknya mendung memayung bergelayut di langit, menjadikan panasnya meningkat serupa bara api dari batok kelapa yang diletakkan tepat di ubun-ubun.
Namun untunglah kami memiliki seorang dewa penolong. Pak Gaul namanya. Aku bahkan tidak tahu siapa nama dia sebenarnya. Ia akan datang di saat yang genting itu dari ujung gang, kemudian lewat depan rumah. Suara teng-teng dari alat musik yang dia mainkan seperti bedug Maghrib yang mengundang orang untuk keluar menuju masjid. Tetapi, teng-teng Pak Gaul akan membuat seisi gang tempat tinggalku berhamburan keluar rumah dengan mangkok di tangan. Mereka akan real antri untuk mendapatkan semangkok bakso lezat, yang akan mengobati kering tenggorokan, laksana manna Dan salwa yang membuat Bani Israel tidak akan lapar selamanya.
Bakso Pak Gaul adalah bakso langganan seisi gang kami, bahkan seluruh komplek perumahan ini. Baksonya lezat, dijamin halal, bebas formalin, borax, Dan campuran tikus. Rasanya menyantapnya setiap Hari tak akan membuat bosan sedikitpun. Es kelapa mudanya juga ditanggung sedap dengan degan yang masih segar.
Saat ini bulan Sya'ban telah tiba. Dan siang itu, Pak Gaul telah berhenti di depan rumah. Kami memesan bakso Dan degan segarnya.
“Ramadhan nanti tetap jualan, kan, Pak?” tanya isteriku. Berbuka dengan bakso Dan es degan Pak Gaul rasanya akan membuat dahaga seharian sirna seketika.
“Apa masalahnya, Pak?” tanya ibunya anak-anak lebih lanjut.
“Kalau saya jualan siang Hari, kan nggak enak?” kata tukang bakso itu. Setelah menuang air kelapa, IA kini menyerut daging kelapa muda Dan memasukkannya ke dalam mangkok. “Malu, Bu! Orang-orang pada puasa, saya malah jualan makanan siang-siang.”
“Ya jualannya jangan siang, Pak. Sore saja menjelang orang berbuka.”
“Kalau sore Hari pas orang berbuka, saya mesti lari-lari kalau mau shalat setelah melayani orang-orang beli bakso. Kadang saya terpaksa shalat di pos satpam, mushala, numpang di rumah orang. Terburu-buru lagi. Sama sekali nggak enak, Bu.”
“Ya juga sih. Lantas rencana Pak Gaul Ramadhan nanti apa?”
Laki-laki itu sejenak seperti berpikir. Tak lama sambil menyerahkan kelapa muda pesanan kami IA menjawab. “Saya rencana prei nggak jualan dulu, Bu.”
“Lho, pasti banyak yang protes tuh Pak!”
“Saya tahu, Bu,” sahut lelaki itu. Ia kini menyiapkan dua mangkok bakso pesanan kami. “Langganan saya di kampung sebelah malah bilang, kalau saya nggak jualan saat Ramadhan nggak bakal dapat sangu lebaran, lho! Begitu katanya.”
“Benar tuh, Pak! Memangnya Pak Gaul nggak bakal kerja apa-apa selama Ramadhan?”
“Ya, nggak sih, Bu,” Pak Gaul tersenyum. Ia lalu mengambil kuah bakso dari panci besar di rombongnya. Asap mengepul dengan aroma yang membuat air liur membanjir. “Saya rencana nanti mengantar anak-anak sekolah. Ada langganan di perumahan sebelah yang menawari saya mengantarkan anak-anaknya. Jadi, saya bisa mengantar mereka pagi Dan menjemput pulang siang Hari.”
Dua buah mangkok kini berpindah tangan.
“Lha, penghasilannya kan tetap berkurang dong, Pak?”
“Ya, nggak apa-apa, Bu,” sahut Pak Gaul tersenyum sambil menerima uang dari isteriku Dan menyerahkan kembaliannya. “Meskipun penghasilan lebih sedikit, tetapi kan saya bisa lebih konsentrasi dalam beribadah di bulan Ramadhan nanti.”
“Wah, kalau memang rencananya seperti itu, kami dukung, Pak!”
***
Usia Kita telah berbilang tahun. Telah berpuluh kali Ramadhan datang Dan pergi dari kehidupan Kita. Tetapi, saya yakin, seyakin-yakinnya bahwa Kita tidak pernah mempersiapkan kedatangan bulan yang mulia itu dengan sebaik-baik menyambut tamu istimewa. Ia telah datang Dan pergi dari sisi Kita dengan begitu saja. Ia telah berulang kali menjadi bagian hidup Kita, menjadi momen paling krusial untuk melebur dosa yang Ada Dan menjadikan Kita serupa bayi kembali. Tetapi, kesempatan demi kesempatan itu seperti lewat sekadar Kita jalani sebagai rutinitas belaka. Akibatnya, sebagaimana air di daun talas, IA tak memberi bekas mendalam dalam diri Kita. Bukan apa. Itu semua karena Kita sendirilah yang telah mengabaikannya begitu rupa.
Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa bergembira saja terhadap datangnya Ramadhan, tamu istimewa itu, Allah SWT mengharamkan jasad Kita terjilat api neraka. Apalagi jika Kita bisa menyikapinya lebih dari sekadar 'bergembira'.
Jadi, apa rencana Anda pada bulan Ramadhan yang akan datang sebentar lagi?
Apakah Anda akan mengurangi jam kerja, dari 8 jam menjadi 5 jam sehari, dari 6 Hari kerja menjadi 4-5 Hari saja? Apakah Anda akan meliburkan diri dari shift malam? Apakah Anda tak berniat lembur lagi selama sebulan? Apakah Anda akan berpindah atau berganti pekerjaan yang lebih ringan sehingga tak mengantuk ketika Tarawih? Ataukah Anda akan mengalihkan pekerjaan di kantor untuk dikerjakan di rumah saja? Apakah Anda akan mengajukan cuti pada 10 Hari terakhir, 20 Hari terakhir, atau kalau perlu, sebulan penuh untuk tidak bekerja?
Jika tak Ada yang Kita lakukan untuk menyambut Ramadhan kecuali hanya sekadar merasa gembira saja – dan untuk itu sangatlah mudah – maka sungguh kita kalah dengan Pak Gaul, tukang bakso yang biasa lewat di depan rumah kami. Ia, yang begitu sederhana itu, rela tidak berjualan bakso yang larisnya minta ampun selama bulan Ramadhan – dan untuk itu ia akan kehilangan penghasilan bakso sebulan. Ia rela berganti pekerjaan hanya untuk antar-jemput anak-anak sekolah. Itu semua semata-mata agar ia bisa berkonsentrasi melakukan ibadah selama Ramadhan.
Betapa pikiran yang begitu sederhana, bukan? Tetapi yang sederhana itu sebenarnya bermakna sangat dalam: Pak Gaul telah melampaui batas “sekadar gembira” saja menyongsong bulan penuh berkah ini. Ia telah menyambut Ramadhan, tamu agung itu, tak sekadar dengan sesungging senyum, hati berbunga atau persiapan yang ala kadarnya. Ia telah menyambut Ramadan dengan segenap cintanya yang sederhana; yang pada kenyataannya sungguh tidaklah sederhana.
Untuk rencananya itulah, kami tak perlu merasa kehilangan jika ia tak akan muncul di ujung gang dengan teng-teng-nya yang membahana selama sebulan penuh. Kami rela 'puasa' menyantap bakso Pak Gaul selama Ramadhan, karena kami tahu ia ingin menjamu tamu istimewa ini dengan among-tamu yang istimewa pula.
Nah, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah punya rencana Ramadhan seperti Pak Gaul?
Selamat Menunaikan ibadah puasa Ramadhan ya.... Mohon Maaf atas kesalahan yang sengaja dan atau tidak sengaja yang sudah mimi and kluarga perbuat kepada kamu semuanya...
nyokap dari 1 bidadari cantik, engineer, cerewet, cuex banget (katanya sich...)
"Hidup adalah pilihan, jadi jatuhkan pilihan pada yang tidak bertentangan dengan keyakinan"